Teori Kritis Habermas dan Kebijakan Merdeka Belajar

Gerald Moratua Siregar

Abstract


Di akhir tahun 2019 lalu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Anwar Makariem mencanangkan kebijakan Merdeka Belajar untuk mengoptimalkan implementasi kurikulum yang berbasis kompetensi. Satu pertanyaan penting yang menyusul dari diterapkannya kebijakan baru Merdeka Belajar adalah seberapa jauh kebijakan ini dapat berdampak dan bertahan? Mengingat tren selama enam belas tahun ini, dimana pembaruan-pembaruan kurikulum berbasis kompertensi tersebut tidak dapat berjalan secara optimal. Berkaitan dengan permasalahan optimalisasi ini, Teori Kritis Habermas mungkin dapat dijadikan pedoman alternatif. Tujuan dari esai ini adalah untuk membuka wacana bahwa melalui Teori Kritis Habermas, kebijakan Merdeka Belajar dapat diimplementasikan secara efektif dan memiliki dampak yang berkelanjutan, sehingga tidak bersifat temporer.


Keywords


pendidikan; kurikulum berbasis kompetensi; Merdeka Belajar; Teori Kritis Habermas.

Full Text:

PDF

References


Adit, A. 12 Desember 2019. Gebrakan Merdeka Belajar, Berikut Empat Penjelasan Nadiem. Berita Edukasi Kompas. https://edukasi.kompas.com/read/2019/12/12/12591771/ gebrakan-merdeka-belajar-berikut-4-penjelasan-mendikbud-nadiem?page=all, diakses pada 12 Desember 2020, jam 17.00 wib.

Biro Kerjasama dan Hubungan Masyarakat Kemendikbud. 2020. Asesmen Nasional sebagai Penanda Perubahan Paradigma Evaluasi Pendidikan. Website Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. https://www.kemdikbud.go.id/main/blog/2020/10/ asesmen-nasional-sebagai-penanda-perubahan-paradigma-evaluasi-pendidikan, diakses pada 12 Desember 2020, jam 17.36 wib.

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1979. Belajar adalah Berubah. Jakarta: Dirjen Pendidikan Tinggi.

Dirjen Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikbud. 2020. Merdeka Belajar. Website Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. https://gtk.kemdikbud.go.id/read-news/merdeka-belajar, diakses pada 12 Desember 2020, jam 17.42 wib.

Habermas, J. 1990. Ilmu dan Teknologi sebagai Ideologi. Diterjemahkan oleh Hasan Basri. Kata pengantar oleh Franz Magnis Suseno. Jakarta: LP3ES.

Hardiman, F.B. 2003. Melampaui Positivisme dan Modernitas. Yogyakarta: Kanisius.

____________. 2009. Kritik Ideologi: Menyingkap Pertautan Pengetahuan dan Kepentingan bersama Jürgen Habermas. Yogyakarta: Kanisius.

____________. 2015. Seni Memahami: Hermeneutik dari Schleiermacher sampai Derrida. Yogyakarta: Kanisius.

Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia no. 43 tahun 2019. https://pendidikan.kulonprogokab.go.id/files/Permendikbud%20No%2043%20Tahun%202019.pdf, diakses pada 12 Desember 2020, jam 20.17 wib.

Pusat Asesmen dan Pembelajaran Kemendikbud. 2020. Asesmen Kompetensi Minimum. Website Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, https://hasilun.puspendik.kemdikbud.go.id/akm/frontpage/detail, diakses pada 12 Desember 2020, jam 17.24 wib.

Waidl, A. 2000. Pendidikan yang Memahami Manusia, dalam Atmadi, A. dan Setiyaningsih, Y. Transformasi Pendidikan Memasuki Milenium Ketiga. Yogyakarta: Kanisius, 2000.




DOI: http://dx.doi.org/10.23887/jfi.v4i2.34771

Article Metrics

Abstract view : 1477 times
PDF file view : 1974 times

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Jurnal ini diterbitkan oleh :



Universitas Pendidikan Ganesha

Creative Commons License

Jurnal Filsafat Indonesia is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.

Jurnal Filsafat Indonesia indexed by:

Akreditasi SINTA 5    Crossref JPI


Creative Commons License

Jurnal Filsafat Indonesia is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.