Sepakat-Sepaket: Modal Sosial Politik Masyarakat Kalitekuk Dalam Mewujudkan Desa Wisata
Main Article Content
Abstract
Modal sosial yang tumbuh dalam masyarakat memberikan gambaran segala sesuatu yang membuat tercapainya tujuan bersama. Dalam pemahaman yang sederhana, modal sosial merupakan relasi produktif yang mampu menjadi kekuatan utama. Perwujudan modal sosial dilihat dari adanya aspek struktur seperti kepercayaan, nilai, norma, serta jaringan. Artikel ini bertujuan untuk mengkonstruksi sebuah gagasan masyarakat desa Kalitekuk yang merupakan modal sosial masyarakat untuk mewujudkan desa wisata. Gagasan ini terbentuk dalam proses pelatihan dan pemberdayaan masyarakat dimana terdapat Kelompok Sadar Wisata dan Bumdes sebagai pesertanya. Metode yang digunakan secara deskriptif dengan pendekatan kualitatif menjadi modal penulis. Hasil penelitian menjelaskan bahwa nilai-nilai kepercayaan dalam modal sosial sangat dominan sebagai dasar bagi masyarakat pedesaan untuk dijadikan modal dalam meningkatkan tujuan utama pembangunan. Sebagai wujud optimalisasi modal sosial dibutuhkan pengelolaan sumberdaya lain yang dimiliki desa. Dimana optimalisasi ini bersumber dari potensi yang sudah ada kemudian dimanfaatkan. Dalam pelaksanaannya perlu adanya dukungan dari berbagai pihak serta harus dibarengi dengan dukungan kepemimpinan transformasional untuk meningkatkan optimalisasi peran modal sosial.
Article Details
Authors who publish with the Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial agree to the following terms:
- Authors retain copyright and grant the journal the right of first publication with the work simultaneously licensed under a Creative Commons Attribution License (CC BY-SA 4.0) that allows others to share the work with an acknowledgment of the work's authorship and initial publication in this journal.
- Authors are able to enter into separate, additional contractual arrangements for the non-exclusive distribution of the journal's published version of the work (e.g., post it to an institutional repository or publish it in a book), with an acknowledgment of its initial publication in this journal.
- Authors are permitted and encouraged to post their work online (e.g., in institutional repositories or on their website) prior to and during the submission process, as it can lead to productive exchanges, as well as earlier and greater citation of published work. (See The Effect of Open Access)
References
Adler, P & S Kwon. 2000. Social Capital: The Good, The Bad and The Ugly. In E Lasser (ed). Knowledge and Social Capital: Fondations and Applications. Butterworth Heinemann.
Brunner, Edward. 2010. New Pradigm of Tourism review of the literature from 2005 to 2009,Scientific Research In Tourism.
Beeton, S. (2006). Community development through tourism. Collingwood, Australia, Landlinks Press.
Cahyono, B., & Adhiatma, A. (2012). Peran Modal Sosial Dalam Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat Petani Tembakau Di Kabupaten Wonosobo. 14.
Coleman, J 1999. Sosial Capital in the Creation of Human Capital. Cambridge Mass:
Pantiyasa, I. W. (2019). Konstruksi Model Pengembangan Desa Wisata menuju Smart Eco-Tourism di Desa Paksebali, Klungkung, Bali. Jurnal Kajian Bali (Journal of Bali Studies), 9(1), 165. https://doi.org/10.24843/JKB.2019.v09.i01.p08
Dasgupta, Partha dan Ismail Serageldin (ed). 2000. Social Capital: A Multifaced Perspective. Washington DC: The World Bank.
Field, John. 2010. Modal Sosial. Terjemahan Nurhadi. Bantul: Kreasi Wacana.
Fitari, Y., dan Ma`arif, S., 2017. Manfaat Pengembangan Desa Wisata Wonolopo terhadap Kondisi Sosial, Ekonomi dan Lingkungan Masyarakat Lokal. Jurnal Wilayah Dan Lingkungan, 5(1), 29–44.
Fukuyama, Francis. 1999. Social Capital and Civil Society. Institut Of Public Policy. George Mason. University.
Jousairi Hasbullah. 2006. Social Capital: Menuju Keunggulan Budaya Manusia Indonesia. Jakarta: MR United Press.
Junaid, I. (2017). Langkah strategis pengembangan indigenous tourism: Studi kasus di Kabupaten Kepulauan Selayar, Masyarakat, Kebudayaan Dan Politik, Jurnal Universitas Airlangga. Vol. 30 (3), hal. 266-277.http://ejournal.unair.ac.id/index.php/MKP/issue/view/542/showToc
Korten, D. (1984). Strategic Organization for People-Centered Development. Public Administration Review, 44(4), 341-352. doi:10.2307/976080Lin, Nan. 2003. Social Capital: A Theory of Social Structure and Action. USA: Cambridge University Press.
Rizkianto, N., dan Topowijono., 2018. Penerapan Konsep Community Based Tourism Dalam Pengelolaan Daya Tarik Wisata Berkelanjutan (Studi Pada Desa Wisata Bangun, Kecamatan Munjungan, Kabupaten Trenggalek). Jurnal Administrasi Bisnis (JAB), 58(2), 20–26.
Rocharungsat, P. (2008). Community-Based Tourism in Asia. Building community capacity for tourism development. G. Moscardo. Wallingford, CABI: 60-74.
Sukirman, O., 2017. Apakah Anggaran Pemasaran Pariwisata Pemerintah Efektif dalam Meningkatkan Jumlah Kunjungan Wisatawan? (Studi Kasus di Indonesia Tahun 2011-2016). Tourism and Hospitality Essentials (THE) Journal, 7(2), 121–128.
Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 Tentang Pemerintahan Daerah
Undang-Undang Nomor 6 tahun 2014 Tentang Desa.
Wardhani, Aprilia Ayu. 2016. Peran Pokdarwis dalam Pengembangan Desa Wisata Dewi Sri.
Wijaya Surya Arif, Zulkarnain, Sopingi. 2016. Proses Belajar Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Dalam Pengembangan Kampoeng Ekowisata.
World Tourism Organization (2004). Compendium of Tourism Statistics. See http://www.worldtourism.org
Wrihatnolo, Randy R dan Riant Nugroho D. 2007. Manajemen Pemberdayaan: Sebuah pengantar dan Pedoman untuk Pemberdayaan Masyarakat. Jakarta: PT Elex Media Komputindo
Wulansari, D., 2009. Sosiologi Konsep dan Teori. Bandung: Refika Aditama.